BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Penulisan makalah ini
dilatarbelakangi oleh sebuah kisah yang begitu menakjubkan. Yakni, kisah Nabi
Ayyub a.s.
Ketika kita membaca di
berbagai literatur sejarah tentunya yang dilandasi dari sumber yang jelas,
yaitu ayat-ayat suci Al-Qur’an dan As-Sunnah. Kita tahu bahwa Nabi Allah Ayyub
a.s ialah putera dari Nabi Ishaq, dan cucu daripada Nabi Ibrahim. Dahulu,
beliau dikenal sebagai seorang Nabi yang kaya raya. Harta kekayaannya begitu
berlimpah ruah. Beliau juga memiliki banyak binatang ternak. Seperti sapi,
kerbau, kambing, keledai, dan lain-lain. Nabi Ayyub a.s ini juga mempunyai
keluarga besar. Sebab, Allah mengaruniai beliau dengan anak-anaknya yang sangat
banyak. Ada anak laki-laki dan juga perempuan.
Meski beliau kaya raya,
namun kekayaannya tidak membuat ia sombong. Semasa hidupnya, ia senantiasa
berbuat kebaikan kepada siapa saja; baik kepada keluarganya,
saudara-saudaranya, tetangga, rekan-rekannya, apalagi terhadap fakir miskin dan
anak yatim. Beliau dikenal sebagai orang yang sangat dermawan, mau membantu
orang-orang yang dalam keadaan kesusahan. Beliau tidak pernah mengharapkan
balasan karena jasanya menolong orang. Sebab, ia lakukan dengan niatan tulus
hanya karena Allah semata.
B. Rumusan Masalah
a. Siapakah nabi Ayub itu ?
b. Adakah Ayat Al-Qur’an dan As-Sunnah yang menerangkan kisah Nabi Ayyub a.s ?
c. Ujian apakah yang di berikan Allah kepada nabi Ayub as ?
BAB II
PEMBAHASAN
A. Siapakah Nabi Ayub itu ?
Dalam Kamus Ilmu Al-Qur’an, diterangkan bahwa Nabi
Ayyub adalah : salah seorang di antara para nabi yang ke dua puluh lima. Ia
adalah anak ‘Ish bin Ishaq bin Ibrahim as. Ia sebagai seorang nabi yang dikenal
dengan kesabarannya dalam menghadapi berbagai cobaan. Mulanya ia seorang yang
kaya harta dan banyak mempunyai anak, tetapi kekayaan hartanya habis dan banyak
yang hilang, sedang anaknya yang banyak pun meninggal dunia. Di samping itu,
beliau kemudian menderita penyakit selama tujuh tahun yang menjadikan orang
lain enggan mendekatinya, kecuali istri yang setia melayaninya. Istrinya setia
kepadanya sampai batas waktu sebelum ia tergoda oleh bujukan setan. Akan
tetapi, dengan kesabaran yang diberikan Allah kepadanya, godaan setan, mental,
dan semuanya dapat dilaluinya dengan selamat. [1]
Dalam Tafsir Al-Misbah,
Bapak Prof. Dr. Muhammad Quraish Shihab memberikan sebuah penjelasan
bahwasannya Nabi Ayyub a.s ialah :
Ayyub adalah nabi yang
menyampaikan risalahnya setelah masa Nabi Ibrahim dan sebelum Nabi Musa as.
Sekitar abad ke 15 sebelum Masehi atau abad ke 21 sebelum Hijrah. [2]
Nabi Ayyub as. Bermukim
di daerah Hauran yang terletak di sebelah selatan kota Damaskus, wilayah Suriah
dewasa ini. Sementara pakar menyatakan bahwa beliau termasuk orang Arab asli.
Ucapan-ucapannya bersyair sehingga beliau dinilai sebagai penyair Arab pertama
dalam sejarah.[3]
Seputar Garis Keturunan
Nabi Ayyub a.s
|
Nama
|
Ayub (Ayyub) bin
Amush
|
|
Garis Keturunan
|
Adam as ⇒ Syits ⇒ Anusy ⇒ Qainan ⇒ Mahlail ⇒ Yarid ⇒ Idris as ⇒ Mutawasylah ⇒ Lamak ⇒ Nuh as ⇒ Sam ⇒ Arfakhsyadz ⇒ Syalih ⇒ Abir ⇒ Falij ⇒ Ra’u ⇒ Saruj ⇒ Nahur ⇒ Azar ⇒ Ibrahim as ⇒ Ishaq as ⇒ al-’Aish ⇒ Rum ⇒ Tawakh ⇒ Amush ⇒ Ayub as
|
|
Usia
|
120 tahun
|
|
Periode sejarah
|
1540 – 1420 SM
|
|
Tempat diutus
(lokasi)
|
Dataran Hauran
|
|
Jumlah keturunannya
(anak)
|
26 anak
|
|
Tempat wafat
|
Dataran Hauran
|
|
Sebutan kaumnya
|
Bangsa Arami dan
Amori, di daerah Syria dan Yordania
|
|
Di Al-Qur’an namanya
disebutkan sebanyak
|
4 kali.
|
B. Ayat Al-Qur’an
dan As-Sunnah yang menerangkan kisah Nabi Ayyub a.s
Diantara dalil-dalil dari Ayat-ayat suci Al-Qur’an yang menerangkan kisah
Nabi Ayyub a.s :
!$¯RÎ) !$uZøym÷rr& y7øs9Î) !$yJx. !$uZøym÷rr& 4n<Î) 8yqçR z`¿ÍhÎ;¨Z9$#ur .`ÏB ¾ÍnÏ÷èt/ 4 !$uZøym÷rr&ur #n<Î) zOÏdºtö/Î) @Ïè»yJóÎ)ur t,»ysóÎ)ur z>qà)÷ètur ÅÞ$t6óF{$#ur 4Ó|¤Ïãur z>qr&ur }§çRqãur tbrã»ydur z`»uKøn=ßur 4 $oY÷s?#uäur y¼ãr#y #Yqç/y ÇÊÏÌÈ
Artinya : Sesungguhnya Kami telah memberikan wahyu kepadamu sebagaimana
Kami telah memberikan wahyu kepada Nuh dan nabi-nabi yang kemudiannya, dan Kami
telah memberikan wahyu (pula) kepada Ibrahim, Isma’il, Ishak, Ya’qub dan anak
cucunya, Isa, Ayyub, Yunus, Harun dan Sulaiman. dan Kami berikan Zabur kepada
Daud. (QS. An-Nisa’ : 163).[4]
$uZö6ydurur ÿ¼ã&s! t,»ysóÎ) z>qà)÷ètur 4 xà2 $oY÷yyd 4 $·mqçRur $oY÷yyd `ÏB ã@ö6s% ( `ÏBur ¾ÏmÏGÍhè y¼ãr#y z`»yJøn=ßur Uqr&ur y#ßqãur 4ÓyqãBur tbrã»ydur 4 y7Ï9ºxx.ur ÌøgwU tûüÏZÅ¡ósßJø9$#
Artinya : Dan Kami telah menganugerahkan Ishak dan Yaqub kepadanya.
kepada keduanya masing-masing telah Kami beri petunjuk; dan kepada Nuh sebelum
itu (juga) telah Kami beri petunjuk, dan kepada sebahagian dari keturunannya
(Nuh) Yaitu Daud, Sulaiman, Ayyub, Yusuf, Musa dan Harun. Demikianlah Kami
memberi Balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. (QS. Al-An’am :
84)
Uqr&ur øÎ) 3y$tR ÿ¼çm/u ÎoTr& zÓÍ_¡¡tB Ø9$# |MRr&ur ãNymör& úüÏH¿qº§9$# ÇÑÌÈ $uZö6yftGó$$sù ¼çms9 $oYøÿt±s3sù $tB ¾ÏmÎ/ `ÏB 9hàÊ ( çm»oY÷s?#uäur ¼ã&s#÷dr& Nßgn=÷VÏBur óOßgyè¨B ZptHôqy ô`ÏiB $tRÏYÏã 3tò2Ïur tûïÏÎ7»yèù=Ï9 ÇÑÍÈ
Artinya : Dan (ingatlah kisah) Ayyub, ketika ia menyeru Tuhannya: “(Ya
Tuhanku), Sesungguhnya aku telah ditimpa penyakit dan Engkau adalah Tuhan yang
Maha Penyayang di antara semua Penyayang”. (84). Maka Kamipun memperkenankan
seruannya itu, lalu Kami lenyapkan penyakit yang ada padanya dan Kami
kembalikan keluarganya kepadanya, dan Kami lipat gandakan bilangan mereka,
sebagai suatu rahmat dari sisi Kami dan untuk menjadi peringatan bagi semua
yang menyembah Allah. (QS. Al-Anbiya : 83 – 84).[5]
öä.ø$#ur !$tRyö7tã z>qr& øÎ) 3y$tR ÿ¼çm/u ÎoTr& zÓÍ_¡¡tB ß`»sÜø¤±9$# 5=óÁãZÎ/ A>#xtãur ÇÍÊÈ ôÙä.ö$# y7Î=ô_ÌÎ/ ( #x»yd 7@|¡tFøóãB ×Í$t/ Ò>#u°ur ÇÍËÈ $oYö7ydurur ÿ¼ã&s! ¼ã&s#÷dr& Nßgn=÷VÏBur öNßgyè¨B ZptHôqy $¨ZÏiB 3tø.Ïur Í<'rT{ É=»t7ø9F{$# ÇÍÌÈ õè{ur x8ÏuÎ/ $ZWøóÅÊ >ÎôÑ$$sù ¾ÏmÎn/ wur ô]oYøtrB 3 $¯RÎ) çm»tRôy`ur #\Î/$|¹ 4 zN÷èÏoR ßö7yèø9$# ( ÿ¼çm¯RÎ) Ò>#¨rr& ÇÍÍÈ
Artinya : Dan ingatlah akan hamba Kami Ayyub ketika ia menyeru
Tuhan-nya: “Sesungguhnya aku diganggu syaitan dengan kepayahan dan siksaan”.(Allah
berfirman): “Hantamkanlah kakimu; Inilah air yang sejuk untuk mandi dan untuk
minum”. Dan Kami anugerahi Dia (dengan mengumpulkan kembali) keluarganya dan
(kami tambahkan) kepada mereka sebanyak mereka pula sebagai rahmat dari Kami
dan pelajaran bagi orang-orang yang mempunyai fikiran. Dan ambillah dengan
tanganmu seikat (rumput), Maka pukullah dengan itu dan janganlah kamu melanggar
sumpah. Sesungguhnya Kami dapati Dia (Ayyub) seorang yang sabar. Dialah
Sebaik-baik hamba. Sesungguhnya Dia Amat taat (kepada Tuhannya). (QS.
Shaad : 41 – 44 ).[6]
Dalil dari As-Sunnah yang menerangkan kisah Nabi Ayyub a.s :
Dalam sebuah hadits
ditegaskan bahwa Rasulullah SAW bersabda:
((أشد الناس بلاء الانبياء، ثم الصالحون، ثم الامثل فالامثل يبتلى الرجل على
حسب دينه؛ فإن كان في دينه صلابة؛ زيد في بلائه.))
“Orang yang mendapat
cobaan paling berat adalah para Nabi, lalu orang-orang shalih, kemudian yang
semisal dan seterusnya. Seseorang itu diuji sesuai dengan tingkat keteguhannya
berpegang pada agamanya. Jika dia benar-benar teguh, maka dia akan semakin
ditambah ujiannya.”
C. Ujian yang Allah
berikan kepada Nabi Ayyub a.s
Ada beberapa ujian yang Allah berikan kepada Nabi Ayyub a.s. di antaranya
adalah sebagai berikut :
1) Ujian pertama yang datang dari Allah adalah, dijadikannya Nabi Ayyub hidup
sebagai orang miskin. Kekayaannya kian hari kian berkurang. Ia hidup dalam
kekurangan. Namun ia tetap sabar dan tabah dalam menghadapi ujian ini.[7]
2) Lantas datang ujian kedua, yaitu seluruh anak-anak Nabi Ayyub, baik yang
laki-laki maupun perempuan semuanya meninggal dunia. Allah memanggil mereka ke
haribaan-Nya. Nabi Ayyub sangat sedih, akan tetapi ia tetap menerima ujian ini
dan tetap mau bersabar.
3) Ujian ketiga pun datang. Ujian kali ini jauh lebih besar daripada ujian sebelumnya.
Nabi Ayyub kali ini diuji Allah dengan penyakit kulit yang menyerang seluruh
tubuhnya. Koreng-koreng yang timbul dari seluruh kulitnya menimbulkan bau tak
sedap. Banyak orang yang tidak mau mendekatinya. Dalam kondisi seperti ini,
Nabi Ayyub tetap bersabar dan rela menerima ujian Allah.
4) Setan pun datang lagi kepadanya karena hendak melunturkan kesabarannya.
Akan tetapi selalu tidak behasil. Akhirnya setan bertambah kesal. Lantas ia
mendatangi istri Nabi Ayyub yang shalihah yang selama ini selalu setia menemani
Nabi Ayyub dan taat kepadanya. Rupanya, kali ini setan berhasil menghasut
istrinya Nabi Ayyub.
Istri Nabi Ayub dalam mencukupi kebutuhan hidup sehari-hari terpaksa
bekerja pada suatu pabrik roti. Pagi ia berangkat, sorenya ia kembali ke rumah
pengasingan. Namun lama-kelamaan majikannya mengetahui bahwa Rahmah adalah
istri Nabi Ayyub yang memiliki penyakit berbahaya. Mereka khawatir Rahmah akan
membawa baksil yang dapat menular melalui roti, oleh sebab itu mereka kemudian
memecatnya.
Rahmah yang setia ini masih memikirkan suaminya. Ia meminta agar majikannya
berkenan memberinya hutang roti, tetapi permintaannya ini ditolak. Majikannya
hanya mau memberinya roti jika ia memotong gelung rambutnya yang panjang,
padahal gelung rambut itu sangat disukai suaminya. Namun demi untuk mendapatkan
roti, Rahmah akhirnya setuju dengan usul majikannya itu.
Ternyata, perbuatannya itu membuat Ayyub menduga bahwa ia telah
menyeleweng. Akhirnya pada suatu hari, mungkin karena sudah tidak tahan dengan
penderitaan yang terus-menerus dihadapi, Rahmah pamit untuk meninggalkan
suaminya. Ia beralasan ingin bekerja agar dapat menghidupi suaminya. Nabi Ayyub
melarangnya, tapi Rahmah tetap bersikeras sembari berkeluh kesah. Sesungguhnya
tindakan Rahmah ini pun tak lepas dari peranan iblis yang menghasutnya untuk
meninggalkan suaminya Ayyub.
Mendengar keluh kesah istrinya, berkatalah Ayyub, "Kiranya kau telah
terkena bujuk rayu iblis, sehingga berkeluh kesah atas takdir Allah. Awas,
kelak jika aku telah sembuh kau akan kupukul seratus kali. Mulai saat ini
tinggalkan aku seorang diri, aku tak membutuhkan pertolonganmu sampai Allah
menentukan takdir-Nya."
Kesabaran, ketabahan dan ketegaran Nabi Ayyub a.s dalam
menerima ujian Allah menjadikan ia semakin disayangi Allah SWT. Dalam do’anya
kepada Allah, Nabi Ayyub melantunkan, ’’Ya Tuhanku, sesunguhnya aku telah
ditimpa penyakit dan Engkau adalah Tuhan Yang Maha Penyayang di antara semua
penyayang.‘‘
Do’a Nabi Ayyub didengar oleh Allah, Allah mengabulkan
doanya dan menyembuhkan penyakitnya setelah tujuh tahun. Allah pun menyadarkan
istrinya yang dahulu pernah durhaka sehingga ia kembali lagi ke haribaan suami
yang tercinta untuk mengabdi kepada Nabi Ayyub.
Begitulah cara Allah
menguji hamba-Nya. Allah telah memberikan kemenangan dan kemuliaan kepada Nabi
Ayyub a.s atas segala kesabarannya itu.[8]
BAB III
PENUTUP
A. kesimpulan
Dalam menjalani
kehidupan di pentas bumi ini, alangkah baiknya kita sama-sama belajar untuk
senantiasa bersikap sabar. Ayyub adalah seorang nabi yang sangat sabar, bahkan
bisa dikatakan bahwa beliau berada di puncak kesabaran. Nabi Ayyub a.s menjadi
simbol kesabaran dan cermin kesabaran atau teladan kesabaran. Allah telah
memujinya dalam kitab-Nya yang berbunyi: “Sesungguhnya Kami dapati dia (Ayyub)
seorang yang sabar. Dialah sebaih-baik hamba. Sesungguhnya dia amat taat
(kepada Tuhannya).” [QS. Shad [38]: 44].
DAFTAR PUSTAKA
Fakhrudin
Arif Al-Hidaya Al-Qur'an Tafsir perkata Tajwid kode angka(ciputat :
Kalim, 2000
Fauzi, Ichwan Anak Muslim
Bertanya Islam Menjawab, Jakarta: Kalam Mulia, 2010
Shihab M. Quraish.Tafsir Al-Mishbah, Volume 2 Tangerang: Lentera
Hati, 2000
W. Al-Hafidz, Ahsin Kamus Ilmu Al-Qur’an, Wonosobo: AMZAH,
2005
[1]
Ahsin W.
Al-Hafidz, Kamus Ilmu Al-Qur’an, (Wonosobo: AMZAH, 2005), Cet. 1, h. 41.
[2]
M. Quraish. Shihab, Tafsir
Al-Mishbah, Volume 2 (Tangerang: Lentera Hati, 2000), h. 663
[3]
M. Quraish.
Shihab, Tafsir Al-Mishbah, Volume 4 (Tangerang: Lentera Hati, 2000), h.
184
[4]Arif Fakhrudin Al-Hidaya
Al-Qur'an Tafsir perkata Tajwid kode angka(ciputat : Kalim, 2000),h. 105
[5]Arif Fakhrudin Al-Hidaya
Al-Qur'an Tafsir perkata Tajwid kode angka, h. 330
[6]Arif Fakhrudin Al-Hidaya
Al-Qur'an Tafsir perkata Tajwid kode angka, h.456-457
[8]Ichwan Fauzi, Anak
Muslim Bertanya Islam Menjawab, (Jakarta: Kalam Mulia, 2010),h. 122-124.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar