Rabu, 25 Desember 2013

Kisah Israiliyat Nabi Ayub



BAB I
PENDAHULUAN
A.     Latar Belakang
Penulisan makalah ini dilatarbelakangi oleh sebuah kisah yang begitu menakjubkan. Yakni, kisah Nabi Ayyub a.s.
Ketika kita membaca di berbagai literatur sejarah tentunya yang dilandasi dari sumber yang jelas, yaitu ayat-ayat suci Al-Qur’an dan As-Sunnah. Kita tahu bahwa Nabi Allah Ayyub a.s ialah putera dari Nabi Ishaq, dan cucu daripada Nabi Ibrahim. Dahulu, beliau dikenal sebagai seorang Nabi yang kaya raya. Harta kekayaannya begitu berlimpah ruah. Beliau juga memiliki banyak binatang ternak. Seperti sapi, kerbau, kambing, keledai, dan lain-lain. Nabi Ayyub a.s ini juga mempunyai keluarga besar. Sebab, Allah mengaruniai beliau dengan anak-anaknya yang sangat banyak. Ada anak laki-laki dan juga perempuan.
Meski beliau kaya raya, namun kekayaannya tidak membuat ia sombong. Semasa hidupnya, ia senantiasa berbuat kebaikan kepada siapa saja; baik kepada keluarganya, saudara-saudaranya, tetangga, rekan-rekannya, apalagi terhadap fakir miskin dan anak yatim. Beliau dikenal sebagai orang yang sangat dermawan, mau membantu orang-orang yang dalam keadaan kesusahan. Beliau tidak pernah mengharapkan balasan karena jasanya menolong orang. Sebab, ia lakukan dengan niatan tulus hanya karena Allah semata.




B.     Rumusan Masalah
a.       Siapakah nabi Ayub itu       ?
b.      Adakah Ayat Al-Qur’an dan As-Sunnah yang menerangkan kisah Nabi Ayyub a.s  ?
c.       Ujian apakah yang di berikan Allah kepada nabi Ayub as    ?















BAB II
PEMBAHASAN
A.     Siapakah Nabi Ayub itu         ?         
Dalam Kamus Ilmu Al-Qur’an, diterangkan bahwa Nabi Ayyub adalah : salah seorang di antara para nabi yang ke dua puluh lima. Ia adalah anak ‘Ish bin Ishaq bin Ibrahim as. Ia sebagai seorang nabi yang dikenal dengan kesabarannya dalam menghadapi berbagai cobaan. Mulanya ia seorang yang kaya harta dan banyak mempunyai anak, tetapi kekayaan hartanya habis dan banyak yang hilang, sedang anaknya yang banyak pun meninggal dunia. Di samping itu, beliau kemudian menderita penyakit selama tujuh tahun yang menjadikan orang lain enggan mendekatinya, kecuali istri yang setia melayaninya. Istrinya setia kepadanya sampai batas waktu sebelum ia tergoda oleh bujukan setan. Akan tetapi, dengan kesabaran yang diberikan Allah kepadanya, godaan setan, mental, dan semuanya dapat dilaluinya dengan selamat. [1]
Dalam Tafsir Al-Misbah, Bapak Prof. Dr. Muhammad Quraish Shihab memberikan sebuah penjelasan bahwasannya Nabi Ayyub a.s ialah :
Ayyub adalah nabi yang menyampaikan risalahnya setelah masa Nabi Ibrahim dan sebelum Nabi Musa as. Sekitar abad ke 15 sebelum Masehi atau abad ke 21 sebelum Hijrah. [2]
Nabi Ayyub as. Bermukim di daerah Hauran yang terletak di sebelah selatan kota Damaskus, wilayah Suriah dewasa ini. Sementara pakar menyatakan bahwa beliau termasuk orang Arab asli. Ucapan-ucapannya bersyair sehingga beliau dinilai sebagai penyair Arab pertama dalam sejarah.[3]

Seputar Garis Keturunan Nabi Ayyub a.s
Nama
Ayub (Ayyub) bin Amush
Garis Keturunan
Adam as Syits Anusy Qainan Mahlail Yarid Idris as Mutawasylah Lamak Nuh as Sam Arfakhsyadz Syalih Abir Falij Rau Saruj Nahur Azar Ibrahim as Ishaq as al-Aish Rum Tawakh Amush Ayub as
Usia
120 tahun
Periode sejarah
1540 – 1420 SM
Tempat diutus (lokasi)
Dataran Hauran
Jumlah keturunannya (anak)
26 anak
Tempat wafat
Dataran Hauran
Sebutan kaumnya
Bangsa Arami dan Amori, di daerah Syria dan Yordania
Di Al-Qur’an namanya disebutkan sebanyak
4 kali.




B.      Ayat Al-Qur’an dan As-Sunnah yang menerangkan kisah Nabi Ayyub a.s
Diantara dalil-dalil dari Ayat-ayat suci Al-Qur’an yang menerangkan kisah Nabi Ayyub a.s :
 !$¯RÎ) !$uZøym÷rr& y7øs9Î) !$yJx. !$uZøym÷rr& 4n<Î) 8yqçR z`¿ÍhÎ;¨Z9$#ur .`ÏB ¾ÍnÏ÷èt/ 4 !$uZøŠym÷rr&ur #n<Î) zOŠÏdºtö/Î) Ÿ@ŠÏè»yJóÎ)ur t,»ysóÎ)ur z>qà)÷ètƒur ÅÞ$t6óF{$#ur 4Ó|¤ŠÏãur z>qƒr&ur }§çRqãƒur tbr㍻ydur z`»uKøn=ßur 4 $oY÷s?#uäur yмãr#yŠ #Yqç/y ÇÊÏÌÈ
Artinya : Sesungguhnya Kami telah memberikan wahyu kepadamu sebagaimana Kami telah memberikan wahyu kepada Nuh dan nabi-nabi yang kemudiannya, dan Kami telah memberikan wahyu (pula) kepada Ibrahim, Isma’il, Ishak, Ya’qub dan anak cucunya, Isa, Ayyub, Yunus, Harun dan Sulaiman. dan Kami berikan Zabur kepada Daud.  (QS. An-Nisa’ : 163).[4]
$uZö6ydurur ÿ¼ã&s! t,»ysóÎ) z>qà)÷ètƒur 4 ˆxà2 $oY÷ƒyyd 4 $·mqçRur $oY÷ƒyyd `ÏB ã@ö6s% ( `ÏBur ¾ÏmÏG­ƒÍhèŒ yмãr#yŠ z`»yJøn=ßur šUqƒr&ur y#ßqãƒur 4ÓyqãBur tbr㍻ydur 4 y7Ï9ºxx.ur ÌøgwU tûüÏZÅ¡ósßJø9$# 


Artinya : Dan Kami telah menganugerahkan Ishak dan Yaqub kepadanya. kepada keduanya masing-masing telah Kami beri petunjuk; dan kepada Nuh sebelum itu (juga) telah Kami beri petunjuk, dan kepada sebahagian dari keturunannya (Nuh) Yaitu Daud, Sulaiman, Ayyub, Yusuf, Musa dan Harun. Demikianlah Kami memberi Balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. (QS. Al-An’am : 84)
 šUqƒr&ur øŒÎ) 3yŠ$tR ÿ¼çm­/u ÎoTr& zÓÍ_¡¡tB ŽØ9$# |MRr&ur ãNymör& šúüÏH¿qº§9$# ÇÑÌÈ $uZö6yftGó$$sù ¼çms9 $oYøÿt±s3sù $tB ¾ÏmÎ/ `ÏB 9hàÊ ( çm»oY÷s?#uäur ¼ã&s#÷dr& Nßgn=÷VÏBur óOßgyè¨B ZptHôqy ô`ÏiB $tRÏYÏã 3tò2ÏŒur tûïÏÎ7»yèù=Ï9 ÇÑÍÈ
Artinya : Dan (ingatlah kisah) Ayyub, ketika ia menyeru Tuhannya: “(Ya Tuhanku), Sesungguhnya aku telah ditimpa penyakit dan Engkau adalah Tuhan yang Maha Penyayang di antara semua Penyayang”. (84). Maka Kamipun memperkenankan seruannya itu, lalu Kami lenyapkan penyakit yang ada padanya dan Kami kembalikan keluarganya kepadanya, dan Kami lipat gandakan bilangan mereka, sebagai suatu rahmat dari sisi Kami dan untuk menjadi peringatan bagi semua yang menyembah Allah. (QS. Al-Anbiya : 83 – 84).[5]




öä.øŒ$#ur !$tRyö7tã z>qƒr& øŒÎ) 3yŠ$tR ÿ¼çm­/u ÎoTr& zÓÍ_¡¡tB ß`»sÜø¤±9$# 5=óÁãZÎ/ A>#xtãur ÇÍÊÈ ôÙä.ö$# y7Î=ô_̍Î/ ( #x»yd 7@|¡tFøóãB ׊Í$t/ Ò>#uŽŸ°ur ÇÍËÈ $oYö7ydurur ÿ¼ã&s! ¼ã&s#÷dr& Nßgn=÷VÏBur öNßgyè¨B ZptHôqy $¨ZÏiB 3tø.ÏŒur Í<'rT{ É=»t7ø9F{$# ÇÍÌÈ õè{ur x8ÏuÎ/ $ZWøóÅÊ >ÎŽôÑ$$sù ¾ÏmÎn/ Ÿwur ô]oYøtrB 3 $¯RÎ) çm»tRôy`ur #\Î/$|¹ 4 zN÷èÏoR ßö7yèø9$# ( ÿ¼çm¯RÎ) Ò>#¨rr& ÇÍÍÈ
Artinya : Dan ingatlah akan hamba Kami Ayyub ketika ia menyeru Tuhan-nya: “Sesungguhnya aku diganggu syaitan dengan kepayahan dan siksaan”.(Allah berfirman): “Hantamkanlah kakimu; Inilah air yang sejuk untuk mandi dan untuk minum”. Dan Kami anugerahi Dia (dengan mengumpulkan kembali) keluarganya dan (kami tambahkan) kepada mereka sebanyak mereka pula sebagai rahmat dari Kami dan pelajaran bagi orang-orang yang mempunyai fikiran. Dan ambillah dengan tanganmu seikat (rumput), Maka pukullah dengan itu dan janganlah kamu melanggar sumpah. Sesungguhnya Kami dapati Dia (Ayyub) seorang yang sabar. Dialah Sebaik-baik hamba. Sesungguhnya Dia Amat taat (kepada Tuhannya). (QS. Shaad : 41 – 44 ).[6]




Dalil dari As-Sunnah yang menerangkan kisah Nabi Ayyub a.s :
Dalam sebuah hadits ditegaskan bahwa Rasulullah SAW bersabda:
((أشد الناس بلاء الانبياء، ثم الصالحون، ثم الامثل فالامثل يبتلى الرجل على حسب دينه؛ فإن كان في دينه صلابة؛ زيد في بلائه.))
“Orang yang mendapat cobaan paling berat adalah para Nabi, lalu orang-orang shalih, kemudian yang semisal dan seterusnya. Seseorang itu diuji sesuai dengan tingkat keteguhannya berpegang pada agamanya. Jika dia benar-benar teguh, maka dia akan semakin ditambah ujiannya.”
C.     Ujian  yang Allah berikan kepada Nabi Ayyub a.s

Ada beberapa ujian yang Allah berikan kepada Nabi Ayyub a.s. di antaranya adalah sebagai berikut :
1)      Ujian pertama yang datang dari Allah adalah, dijadikannya Nabi Ayyub hidup sebagai orang miskin. Kekayaannya kian hari kian berkurang. Ia hidup dalam kekurangan. Namun ia tetap sabar dan tabah dalam menghadapi ujian ini.[7]
2)      Lantas datang ujian kedua, yaitu seluruh anak-anak Nabi Ayyub, baik yang laki-laki maupun perempuan semuanya meninggal dunia. Allah memanggil mereka ke haribaan-Nya. Nabi Ayyub sangat sedih, akan tetapi ia tetap menerima ujian ini dan tetap mau bersabar.
3)      Ujian ketiga pun datang. Ujian kali ini jauh lebih besar daripada ujian sebelumnya. Nabi Ayyub kali ini diuji Allah dengan penyakit kulit yang menyerang seluruh tubuhnya. Koreng-koreng yang timbul dari seluruh kulitnya menimbulkan bau tak sedap. Banyak orang yang tidak mau mendekatinya. Dalam kondisi seperti ini, Nabi Ayyub tetap bersabar dan rela menerima ujian Allah.
4)      Setan pun datang lagi kepadanya karena hendak melunturkan kesabarannya. Akan tetapi selalu tidak behasil. Akhirnya setan bertambah kesal. Lantas ia mendatangi istri Nabi Ayyub yang shalihah yang selama ini selalu setia menemani Nabi Ayyub dan taat kepadanya. Rupanya, kali ini setan berhasil menghasut istrinya Nabi Ayyub.
Istri Nabi Ayub dalam mencukupi kebutuhan hidup sehari-hari terpaksa bekerja pada suatu pabrik roti. Pagi ia berangkat, sorenya ia kembali ke rumah pengasingan. Namun lama-kelamaan majikannya mengetahui bahwa Rahmah adalah istri Nabi Ayyub yang memiliki penyakit berbahaya. Mereka khawatir Rahmah akan membawa baksil yang dapat menular melalui roti, oleh sebab itu mereka kemudian memecatnya.

Rahmah yang setia ini masih memikirkan suaminya. Ia meminta agar majikannya berkenan memberinya hutang roti, tetapi permintaannya ini ditolak. Majikannya hanya mau memberinya roti jika ia memotong gelung rambutnya yang panjang, padahal gelung rambut itu sangat disukai suaminya. Namun demi untuk mendapatkan roti, Rahmah akhirnya setuju dengan usul majikannya itu.

Ternyata, perbuatannya itu membuat Ayyub menduga bahwa ia telah menyeleweng. Akhirnya pada suatu hari, mungkin karena sudah tidak tahan dengan penderitaan yang terus-menerus dihadapi, Rahmah pamit untuk meninggalkan suaminya. Ia beralasan ingin bekerja agar dapat menghidupi suaminya. Nabi Ayyub melarangnya, tapi Rahmah tetap bersikeras sembari berkeluh kesah. Sesungguhnya tindakan Rahmah ini pun tak lepas dari peranan iblis yang menghasutnya untuk meninggalkan suaminya Ayyub.

Mendengar keluh kesah istrinya, berkatalah Ayyub, "Kiranya kau telah terkena bujuk rayu iblis, sehingga berkeluh kesah atas takdir Allah. Awas, kelak jika aku telah sembuh kau akan kupukul seratus kali. Mulai saat ini tinggalkan aku seorang diri, aku tak membutuhkan pertolonganmu sampai Allah menentukan takdir-Nya."
            Kesabaran, ketabahan dan ketegaran Nabi Ayyub a.s dalam menerima ujian Allah menjadikan ia semakin disayangi Allah SWT. Dalam do’anya kepada Allah, Nabi Ayyub melantunkan, ’’Ya Tuhanku, sesunguhnya aku telah ditimpa penyakit dan Engkau adalah Tuhan Yang Maha Penyayang di antara semua penyayang.‘‘
            Do’a Nabi Ayyub didengar oleh Allah, Allah mengabulkan doanya dan menyembuhkan penyakitnya setelah tujuh tahun. Allah pun menyadarkan istrinya yang dahulu pernah durhaka sehingga ia kembali lagi ke haribaan suami yang tercinta untuk mengabdi kepada Nabi Ayyub.
Begitulah cara Allah menguji hamba-Nya. Allah telah memberikan kemenangan dan kemuliaan kepada Nabi Ayyub a.s atas segala kesabarannya itu.[8]








BAB III
PENUTUP
A.     kesimpulan
Dalam menjalani kehidupan di pentas bumi ini, alangkah baiknya kita sama-sama belajar untuk senantiasa bersikap sabar. Ayyub adalah seorang nabi yang sangat sabar, bahkan bisa dikatakan bahwa beliau berada di puncak kesabaran. Nabi Ayyub a.s menjadi simbol kesabaran dan cermin kesabaran atau teladan kesabaran. Allah telah memujinya dalam kitab-Nya yang berbunyi: “Sesungguhnya Kami dapati dia (Ayyub) seorang yang sabar. Dialah sebaih-baik hamba. Sesungguhnya dia amat taat (kepada Tuhannya).” [QS. Shad [38]: 44].









DAFTAR PUSTAKA

Fakhrudin Arif Al-Hidaya Al-Qur'an Tafsir perkata Tajwid kode angka(ciputat : Kalim, 2000
Fauzi, Ichwan Anak Muslim Bertanya Islam Menjawab, Jakarta: Kalam Mulia, 2010  
Shihab M. Quraish.Tafsir Al-Mishbah, Volume 2 Tangerang: Lentera Hati, 2000
W. Al-Hafidz, Ahsin Kamus Ilmu Al-Qur’an, Wonosobo: AMZAH, 2005













[1] Ahsin W. Al-Hafidz, Kamus Ilmu Al-Qur’an, (Wonosobo: AMZAH, 2005), Cet. 1, h. 41.
[2] M. Quraish. Shihab, Tafsir Al-Mishbah, Volume 2 (Tangerang: Lentera Hati, 2000), h. 663
[3] M. Quraish. Shihab, Tafsir Al-Mishbah, Volume 4 (Tangerang: Lentera Hati, 2000), h. 184

[4]Arif Fakhrudin Al-Hidaya Al-Qur'an Tafsir perkata Tajwid kode angka(ciputat : Kalim, 2000),h. 105
[5]Arif Fakhrudin Al-Hidaya Al-Qur'an Tafsir perkata Tajwid kode angka, h. 330
[6]Arif Fakhrudin Al-Hidaya Al-Qur'an Tafsir perkata Tajwid kode angka, h.456-457
[8]Ichwan Fauzi, Anak Muslim Bertanya Islam Menjawab, (Jakarta: Kalam Mulia, 2010),h. 122-124.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar